Kamis , 24 Oktober 2019
Awal / Dunia / GUA HARIMAU DI PADANG BINDU OKU (2)

GUA HARIMAU DI PADANG BINDU OKU (2)

Spread the love

Ditemukan Kuburan Anak Raja Kuno

Tim Penelitian Arkeologi Nasional Puslit Arkenas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI diketuai Prof DR Truman Simanjuntak berhasil menemukan 17 kerangka manusia kuno di Gua Harimau Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji Kabupaten OKU Sumsel.

Truman Simanjuntak yang ditemui di lokasi penggalian Kamis (14/4/2011) mengatakan Gua Harimau memperlihatkan indikator hunian prasejarah dan sekaligus hamparan kuburan. Terbukti sejak penelitian dari tahun 2008 hingga saat ini sudah 17 kerangka manusia kuno yang diperkirakan hidup 3.000 tahun lalu, ditemukan. Peneliti juga menemukan perkakas rumah tangga dari bahan logam.

Truman didampingi Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata OKU Aufa S Syarkomi, mengatakan tim peneliti akan melakukan penelitian dari tanggal 12 hingga 30 April mendatang di Gua Harimau.

Menariknya tim peneliti juga menemukan satu kuburan dengan tiga tengkorak digabung dalam satu liang. Menurut Truman penemuan ini semakin unik dan menarik untuk diteliti. “Mungkin yang meninggal ini anak raja atau pemimpin, biasanya pengawalnya ikut dibunuh dan dikubur dalam satu lubang supaya anak raja ini bisa ada teman didunianya yang baru,” terang Truman seraya menambahkan itu baru analisa sementara, karena masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain.

Sejumlah kerangka manusia kuno ini dikubur dengan berbagai posisi (tidak satu arah), ada tengkorak orok. Baru separoh gua yang digali sudah ditemukan belasan tengkorak. “Sudah terlihat hamparan kuburan,” kata Truman seraya menambahkan dapat disimpulkan Gua Harimau merupakan hunian dan sekaligus hamparan kuburan.

Berbeda dengan tempat-tempat lain yang biasanya kuburan tidak disatukan dengan hunian namun di Gua Harimau ini karena ukuran guanya luas sehingga bila ada anggota kelurga yang meninggal langsung dikubur di gua.

Gua ini tergolong luas dengan ukuran pintu masuk dan ruang gua-gua 40-50 M. langit-langit atap gua sangat tinggi sekitar 20-35 meter. Sementara ditempat-tempat lain kata Truman biasanya kuburan berada dipuncak-puncak gua supaya tidak mengganggu aktivitas penghuni gua.

Prof Truman kepada Aufa S Syarkomi yang melihat langsung aktivitas peneliti berjanji akan datang kembali ke lokasi. “Saya sangat tertarik dan ingin tahu lebih jauh seputar temuan penelitian di Gua Harimau ini,” kata Aufa. Sedangkan Truman mengungkapkan akan melakukan penelitian dari tanggal 11 hingga 30 April mendatang di Gua Harimau.

Tim berjumlah 13 orang masing-masing Prof DR Truman Simanjuntak (ketua) Drs Wahyu dan anggota Saptomo M Hum, Dr Bagyo Prasetyo, Dr Fadilla Arifin Aziz, Jatmiko M Hum, Retno Handini MSi, Dwi Yani Yuniawati M Hum, Dariusman Abdillah ST, Dra Vita dan tiga tenisi Romania Lumban Gaol, Ngadiman dan Sigit Eko Prasetyo.

Jejak Prasejarah di Gua Harimau Setelah Banjir Bandang Berlalu…

Tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI melakukan penelitian situs purbakala yang ditemukan di Gua Harimau Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Di tempat ini ditemukan fosil manusia berumur sekitar 3.000 tahun dengan panjang kerangka yang masih utuh sekitar 2 meter. Selain itu juga ditemukan lukisan pada dinding gua yang selama ini belum pernah ditemukan pada berbagai penelitian gua di seluruh Indonesia. Temuan lain di tempat ini berupa peralatan rumah tangga yang terbuat dari batu.
Lebih dari 28 tahun lalu kawasan Desa Padang Bindu dan sekitarnya dilanda bencana hebat. Banjir bandang meluluhlantakkan sejumlah desa yang ada di bagian hulu tepian Sungai Ogan itu. Tercatat 200 lebih orang tewas terseret air bah. Beberapa di antaranya hilang hingga kini, tidak bisa dilacak di mana kuburnya.

Ratusan rumah panggung yang ada di sana pun ikut disapu arus yang naik dan melimpas desa begitu cepat. Ulak Pandan dan Batanghari—dua desa yang mengapit Padang Bindu, di hilir dan hulunya—tercatat menderita paling parah.

“Waktu itu saya masih kelas II SD. Kami, tujuh bersaudara, hanya dua yang selamat. Lima saudara saya yang lain meninggal, satu di antaranya hilang. Sampai hari ini tidak terberitakan kalau-kalau ada orang yang menemukan mayatnya di daerah hilir sana,” tutur Zarkoni (36), penduduk Desa Ulak Pandan.

Padang Bindu dan sekitarnya, yang secara administratif berada di wilayah Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, memang rawan banjir. Sungai Ogan merupakan daerah limpasan air yang turun dari gugusan perbukitan di lereng timur Pegunungan Bukit Barisan.

Begitu banyak mata air di sana, membentuk sungai-sungai kecil dan semua mengalir dan bermuara ke Sungai Ogan sebagai “induk”-nya. Sungai Ogan sendiri, bersama delapan sungai besar lain yang ada di Sumatera Selatan, pada akhirnya mengalir dan bermuara ke sungai yang lebih besar lagi: Sungai Musi!

Sejak tragedi tahun 1982 itu, peristiwa banjir dalam skala serupa memang tidak pernah terjadi. Akan tetapi, seiring perubahan bentang alam kawasan ini, ketika hutan-hutan di perbukitan terus dibuka untuk perladangan dan wilayah “hutan larangan” sebagai daerah tangkapan hujan di hulunya mulai diincar pemodal besar untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit, ancaman banjir bandang dalam skala yang mungkin lebih besar bukan suatu kemustahilan akan berulang. Lebih-lebih di tengah perubahan iklim global seperti sekarang.

“Takut nian, Pak, kami kalau sampai hutan di hulu sana ‘dijual’ oleh pemerintah untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Sebab, kabarnya daerah ‘hutan larangan’ itu sudah akan dibuka, tinggal menunggu waktu,” kata salah seorang penduduk Padang Bindu.

Di tengah kekhawatiran sebagian kecil warga yang paham akan risiko banjir bandang yang mungkin suatu saat akan terulang, di tengah kian rusaknya kawasan perbukitan di pinggang timur Pegunungan Bukit Barisan di wilayah ini, sejak 10 tahun terakhir sebuah aktivitas kecil oleh tim penelitian dari Puslitbang Arkenas mencoba mengeksplorasi jejak-jejak hunian prasejarah di daerah mereka.

Hanya beberapa kilometer di seberang desa mereka, dipisah oleh Sungai Ogan yang berair keruh-pekat—tanda di bagian hulu terjadi erosi terus-menerus—terbentang gugusan perbukitan karst yang diselang-selingi tanah datar. Jauh lebih ke belakang, Pegunungan Bukit Barisan menjadi semacam penyekat bagian timur dan barat Pulau Sumatera.

Hasil penelitian awal cukup mencengangkan. Dari kotak-kotak galian di Gua Harimau saja sudah 18 individu manusia prasejarah ras Mongoloid yang berhasil diidentifikasi. Jarak antara satu individu dan individu yang lain sangat dekat. Lokasi kuburan pun menyebar di seluruh kotak yang digali, mengindikasikan Gua Harimau sebagai lokasi penguburan.

Di lokasi galian juga didapati distribusi artefak—berupa alat serpih terbuat dari rijang, obsidian, dan batu gamping kersikan—dalam sebaran yang cukup signifikan. Ini mengindikasikan fungsi gua tak hanya untuk pemakaman, tetapi sekaligus tempat hunian.

Jejak hunian masa lampau itu kini mulai terkuak. Akankah kawasan bersejarah itu rusak akibat keserakahan manusia masa kini?

Kerangka Purba di Gua Harimau Para Penghuni Awal Sumatera

Fosil manusia berumur sekitar 3.000 tahun dengan panjang kerangka yang masih utuh sekitar 2 meter ini ditemukan di Gua Harimau Desa Padangbindu Kecamatan Semidangaji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan.

Tiga di antara 18 individu manusia prasejarah hasil ekskavasi tim Puslitbang Arkenas di Gua Harimau itu sepertinya dikubur pada saat bersamaan dalam satu liang. Persis di bawah rangka utama, dua rangka individu lain terlihat saling bersentuhan dalam posisi bagai menyangga “sang majikan” yang dikubur di atas keduanya.

Posisi penguburan yang unik sekaligus menimbulkan tanda tanya. Mungkinkah dalam sistem penguburan pada masa itu, antara 3.500 dan 2.000 tahun lalu, manusia prasejarah di Nusantara telah mengenal strata sosial di mana apabila ada tokoh atau orang-orang tertentu meninggal, maka perlu ada tumbal yang harus ikut dikubur? Mungkinkah sudah ada kepercayaan kehidupan setelah mati di alam lain sehingga “sang majikan” tetap perlu dilayani pascakematiannya?

“Segala kemungkinan selalu ada, tetapi yang pasti seluruh rangka manusia dari Gua Harimau merupakan ras Mongoloid,” kata Harry Widianto, ahli paleoantropologi yang juga adalah Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran.

Harry begitu yakin temuan “kuburan” massal di Gua Harimau adalah sisa-sisa rangka manusia prasejarah dari ras Mongoloid. Keyakinan itu berangkat dari ciri-ciri morfologis rangka temuan, terutama dari bentuk tengkorak yang meninggi dan membundar (brachycephal), tulang tengkorak bagian belakang (occiptal) yang datar, morfologi gigi seri, bentuk orbit mata, kedalaman tulang hidung (nasal), serta dari postur tulang dan tubuh mereka yang khas Mongoloid.

“Ciri-ciri morfologisnya memang menunjukkan identitas mereka sebagai bagian dari ras Mongoloid,” kata Harry.

Siklus kehidupan Individu-individu itu umumnya dikubur dengan orientasi timur (kepala) dan barat (kaki). Lewat penguburan semacam ini, patut diduga bahwa mereka sudah mengenal semacam filosofi tentang siklus kehidupan. Arah timur sebagai lokasi kepala adalah arah matahari terbit, sedangkan barat sebagai arah kaki adalah arah matahari tenggelam. Dalam konteks ini, penguburan dengan orientasi semacam itu mengacu pada asal mula (timur) dan akhir (barat) dari kehidupan.

Filosofi itu juga tecermin dari adanya penguburan terlipat, yang menggambarkan posisi bayi di dalam perut sebelum ia dilahirkan. Dengan mengubur secara terlipat diharapkan pada saat kematian yang bersangkutan telah dibebaskan dari segala belenggu duniawi dan dikembalikan pada kehidupan awal pada saat dia mati.

“Dengan demikian, posisi penguburan terlipat tersebut mengisyaratkan individu tersebut kembali suci pada saat dia meninggal,” tutur Harry Widianto.

Melalui temuan ini, teori baru tentang alur migrasi manusia prasejarah pendukung budaya Austronesia ke Nusantara perlu dibangun kembali. Paling tidak, teori lama bahwa “pendudukan” Sumatera oleh ras Mongoloid dari daratan Asia melalui Taiwan-Filipina-Sulawesi—kemudian dalam perjalanan migrasi mereka selanjutnya ke Madagaskar melalui Kalimantan, Sumatera, dan Jawa (dikenal sebagai teori “Out of Taiwan”)—bukanlah satu-satunya kebenaran.

Sebab, temuan-temuan rangka manusia berikut artefak tinggalan budaya mereka di kawasan perbukitan karst Padang Bindu, Sumatera Selatan—juga temuan semasa di Ulu Tijanko, Jambi—menunjukkan usia yang sama tuanya (sekitar 3.500 tahun) dengan budaya Austronesia di Sulawesi, misalnya. Tafsir baru yang dapat dimajukan adalah bahwa sejak awal persebaran ras Mongoloid tidak hanya terjadi di bagian tengah Nusantara (jalur Taiwan-Filipina-Sulawesi), tetapi juga di bagian barat melalui daratan Asia Tenggara ke Sumatera-Jawa.

“Sisa-sisa rangka manusia di Gua Harimau, juga di Pondok Selabe dan Gua Putri yang masih dalam satu kawasan, adalah bukti dari pergerakan ‘jalur baru’ tersebut,” kata Harry.

Patut diduga mereka inilah para penghuni awal Sumatera. Dalam tahap evolusi lebih lanjut, beribu-ribu tahun kemudian—setelah menanggalkan status sebagai “manusia gua” dengan hidup dan menetap di lembah dan dataran yang lebih luas—mereka pun membangun kebudayaan baru di daratan yang kini disebut sebagai Pulau Sumatera. Dan, Gua Harimau adalah salah satu lokasi kuburan para leluhur orang-orang Sumatera itu….

Hasil Penelitian Badan Arkeologi, Sejarah dan Budaya, Departemen Pariwisata Nasional Republik Indonesia.(*)

Tentang zoel snage

Baca Juga

GUA HARIMAU DI PADANG BINDU OKU SUMATRA SELATAN

Spread the loveMenyingkap Fajar Sejarah Sumatera Tim peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *