Merebut Pertolongan Allah

oleh -177 views

Bianglala.info – Selain dipenuhi dengan banyak fadilah, Ramadhan juga sarat dengan peristiwa yang menyejarah. Di zaman Rasulullah saja, beberapa peristiwa penting terjadi pada bulan mulia ini. Yang paling spektakuler adalah Perang Badar dan penaklukan Kota Makkah. Kemudian, sejumlah peristiwa bersejarah setelahnya juga terjadi pada bulan Ramadhan, seperti dipukul mundurnya pasukan Mongol di Ainul Jalut.

Secara fisik, kita merasakan kelemahan pada bulan Ramadhan, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Kelemahan dan kesulitan itu terasa semakin berlipat. Namun, merujuk pada sejarah gemilang di atas, kita layak untuk tetap optimistis. Sebab, ketika bulan Ramadhan Allah tidak saja menawarkan pahala, tapi juga pertolongan.

Ramadhan dan ujian Covid-19 adalah perpaduan yang sangat serasi untuk merebut pertolongan Allah. Ada tantangan berat dan ada nuansa ibadah yang sangat mendukung. Tantangan yang berat akan menghadirkan perasaan lemah dan butuh kepada Allah. Penyaluran rasa butuh itu melalui ibadah dan munajat.

Perpaduan antara rasa lemah sekaligus sangat butuh kepada Allah dan nuansa Ramadhan akan menghadirkan ibadah yang berkualitas. Ibadah yang dipenuhi perasaan rendah diri dan lemah di hadapan Allah. Allah berfirman yang artinya, “Beribadalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-A’raf: 55).

Ibadah-ibadah model inilah yang akan mengundang pertolongan Allah. Dalam sahih Bukhari diceritakan tentang tiga orang yang terjebak dalam gua. Situasi sangat sulit karena batu yang menutupi gua itu sangat besar. Tak ada tenaga manusia yang bisa menggesernya. Dalam kondisi sulit seperti itu, ketiga orang itu mendekat kepada Allah. Mereka berdoa dengan penuh kerendahan dan rasa butuh kepada Allah. Keajaiban pun terjadi. Batu yang besar itu akhirnya bergeser.

Saat ini, batu yang besar itu berwujud Covid-19. Kelihatan sangat berat untuk mengatasinya. Tapi, jika Allah menghendaki, semua yang sulit akan berakhir dan berganti dengan kemudahan. Allah berfirman, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6).

Karena itu, tugas kita adalah berikhtiar tanpa kenal henti untuk menyambut kemudahan yang dijanjikan, baik ikhtiar ilmiah lahiriah dengan mengikuti arahan para ahli medis, demikian pula ikhtiar syar’iyah melalui doa. Urusan hasil, kita sandarkan kepada Allah semata. (*)