Saat Cirebon Lockdown Dilanda Wabah Malaria

oleh -17 views

Buitenzorg – Selain pandemi covid-19 yang tak kunjung usai saat ini, wabah serupa pernah terjadi. Kala itu, Cirebon sempat memberlakukan lockdown total. Warga benar-benar tidak boleh keluar masuk.

Tidak ada bantuan sosial seperti yang disalurkan pemerintah saat ini.  Wabah itu,tidak hanya mencakup Cirebon.

Tetapi meluas di Asia Tenggara. Posisi kota karisidenan yang menjadi tempat pertukaran barang, jasa juga mobilitas manusia cukup rentan. Apalagi dengan aktivitas pelabuhan.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusi), Drs H Jaja Sulaeman MPd menuturkan, dari arsip yang ada di dispusip juga dari arsip nasional, wabah terjadi di tahun 1825.

Saat itu Cirebon masih berupa Keresidenan sehingga tak diketahui letak daerah pasti wabah ini. Di tahun tersebut suatu wabah menjangkit ribuan orang.

Namun belum ada yang mengetahui apa penyakit tersebut dan bagaimana cara menanggulanginya. “Pada saat itu wabah ini terjadi se-Asia tenggara,” tutur Jaja, kepada Radar Cirebon.

Setelah disadari adanya wabah, lockdown pun diterapkan. Namun, di dalam arsip tersebut dijelaskan akses benar-benar ditutup. Tak boleh ada orang masuk atau keluar. Dan tak ada pemberian makan atau bantuan apapun.

Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya penyebaran wabah tersebut. Pada masa ini masih berkuasa Pemerintah Hindia Belanda.

Bertahun-tahun wabah ini pun masih terus berlangsung. Hingga di tahun 1925 Cirebon pun sudah berubah menjadi Kota Cirebon. Dirasa wabah tersebut masih terjadi dan memakan korban.

Saat itu untuk menanggulangi wabah ini, pemerintah pun mendirikan Rumah Sakit Oranye yang saat ini bernama Rumah Sakit Daerah Gunung Jati (RSDGJ).

Namun saat itu hanya orang-orang tahta menengah yang bisa mendapatkan pengobatan di rumah sakit tersebut. Sampai akhirnya di tahun yang berdekatan dibangun juga rumah sakit di daerah Pamitran.

“Rumah Sakit Oranye ini jadi salah satu bukti penanggulangan pemeirntah akan wabah yang terjadi di masa itu,” terangnya.

Bentuk penanggulangan lainnya yakni pembuatan gorong-gorong atau drainase.

Di tahun 1927 wabah ini sudah mulai diketahui dan bernama malaria. Salah satu penyebab wabah ini menurut pemerintah saat itu adalah perilaku masyarakat yang dinilai kurang bersih.

Ditambah saat itu kerap terjadi banjir. Kemudian dibangunlah drainase atau gorong-gorong yang sangat besar beserta pompa air yang cukup besar.

Dulu dibuat untuk menyedot air dari kali bacin, yang saat ini berubah jadi Jalan Merdeka (SMPN 10). Pompanya pun langsung menuju laut (masih ada di pelabuhan dekat Nasi Jamblang Pelabuhan).

“Besar pompa air ini. Katanya sangat besar. Sampai seekor sapi pun bisa tersedot tanpa mati,” paparnya.

Wabah ini pun akhirnya bisa tertanggulangi dengan menutup Kali bacin dengan drainase tersebut. Serta diddirikannya rumah sakit. Hal ini menjadi catatan sejarah yang sudah diarsipkan.

Menyikapi pandemi yang saat ini masih berlangsung, pihaknya juga menuturkan telah menginfomasikan kepada seluruh stake holder untuk selalu mengabadikan bergaam dokumentasi mengenai pandemi ini.

“Pandemi Covid-19 ini tentu nantinya akan menjadi bagian dari catatan sejarah,” tukasnya. (sn)